Tambang Berkelanjutan

Tambang berkelanjutan bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Sektor energi menyumbang 75% emisi gas rumah kaca global, dengan 90% emisi CO2 berasal dari bahan bakar fosil seperti batu bara. Dalam lanskap inilah, stigma negatif terhadap tambang konvensional kian tajam.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) melalui PT Borneo Indobara (BIB) menjadikan tambang berkelanjutan sebagai landasan operasional.

Paradigma Baru: Tambang Berkelanjutan dan SDGs

Mengubah Paradigma Industri Tambang

BIB yang menjadi bagian dari GEMS meyakini bahwa tanggung jawab sosial bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi jangka panjang untuk memastikan masyarakat sekitar tambang ikut tumbuh bersama. Karena itu, setiap inisiatif CSR BIB diselaraskan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) agar memberikan dampak nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Dengan memetakan program CSR ke dalam target-target SDGs, perusahaan memastikan bahwa setiap rupiah investasi sosial memiliki dampak nyata, baik secara lokal maupun global. Selain itu kontribusi CSR BIB terhadap SDGs bukan hanya pada pencapaian indikator global, tetapi juga pada perubahan struktural masyarakat lokal: dari ketergantungan pada industri tambang menuju kemandirian ekonomi berbasis sumber daya desa. Inilah wujud nyata bahwa CSR adalah katalis transisi sosial, sekaligus bagian dari strategi besar GEMS untuk meninggalkan warisan keberlanjutan yang lebih luas daripada sekadar eksploitasi sumber daya alam.

SDG 2030: Cetak Biru BIB Menuju Tambang Bernilai Lintas Generasi

BIB tak sekadar memenuhi regulasi. Anak perusahaan ini menjadikan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai fondasi operasional.

Dalam peta jalannya menuju 2027, BIB menargetkan SDG 7 (Energi Bersih), dan SDG 13 (Aksi Iklim) melalui efisiensi energi, transisi ke solar panel, hingga pengelolaan limbah tambang berkelanjutan.

Lebih dari sebatas wacana hijau, strategi ini dibuktikan melalui penurunan emisi intensitas produksi. BIB memahami bahwa masa depan industri bukan hanya merujuk  neraca laba, tapi juga generasi yang akan hidup dari bumi yang ditinggalkan.

 

Rekam Jejak dan Penghargaan

Sejak awal, GEMS meyakini bahwa keberhasilan sebuah program CSR tidak hanya diukur dari pelaksanaan, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Konsistensi ini membawa rekam jejak yang kuat, di mana setiap inisiatif CSR berbuah pada transformasi sosial sekaligus mendapat pengakuan luas dari berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Rekam jejak dan penghargaan yang diperoleh membuktikan bahwa komitmen perusahaan dalam CSR bukan sekadar retorika. Validasi dari lembaga nasional menjadi legitimasi eksternal atas kualitas implementasi CSR GEMS.

Simak juga: Menelusuri Salah Satu Perusahaan Tambang Terbesar di Kalimantan

Langkah Progresif Menuju Tambang Ramah Lingkungan

Global terus menggaungkan untuk menurunkan emisi. Namun, BIB justru melangkah lebih cepat dari tuntutan. Inisiatif penggunaan truk hauling bertenaga listrik menjadi actionable symbol akan komitmen dekarbonisasi operasional.

Tak berhenti di sana, digitalisasi rantai tambang—dari pengangkutan hingga pemantauan emisi—mengukuhkan efisiensi sekaligus meminimalkan jejak karbon. Langkah-langkah ini muncul bukan karena respons sesaat, melainkan bagian dari blue print jangka panjang menuju tambang ramah lingkungan.

GEMS dan BIB membuktikan bahwa transformasi hijau bisa berjalan berdampingan dengan produktivitas tinggi. Tak heran jika keduanya menjadi pionir dalam redefinisi industri ekstraktif yang bertanggung jawab.

Menuju Masa Depan Tambang yang Bertanggung Jawab

Transformasi yang dijalankan GEMS melalui BIB membuktikan bahwa keberlanjutan seharusnya bisa jadi akselerator produktivitas, bukan hambatan. Memiliki peta jalan yang jelas juga berarti bahwa prinsip tanggung jawab lingkungan dan efisiensi operasional menjadi satu kesatuan strategis.

Optimisme terhadap industri tambang Indonesia yang lebih hijau pun bukan utopia. Justru dari sini narasi baru terbentuk bahwa daya saing jangka panjang bertumpu pada visi tambang berkelanjutan.

Jenis Tambang Batubara

Tambang batubara menjadi tulang punggung industri energi Indonesia, yang pada 2024 mencatat produksi nasional mencapai 836 juta ton 117% dari target.

Di tengah permintaan energi global dan ekspor yang terus naik, metode tambang terbuka (open pit) mendominasi operasi di  PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Dengan lima area konsesi strategis, GEMS bukan sekadar produsen, tapi pemain utama dalam menjaga ketahanan energi.

Wilayah Tambang Strategis Milik GEMS

GEMS mengelola konsesi pertambangan batubara di Kalimantan dan Sumatera melalui entitas anak usaha pemegang izin pertambangan batubara yakni PT Borneo Indobara (BIB), PT Barasentosa Lestari (BSL), PT Kuansing Inti Makmur (KIM) beserta anak usahanya,  PT Trisula Kencana Sakti (TKS), serta PT Era Mitra Selaras (EMS) beserta anak usahanya.

Hingga akhir 2024, total area tambang yang dikelola mencapai sekitar 66.204 hektar, dengan cadangan batubara sebesar 900 juta ton.

Lokasi yang tersebar strategis di Kalimantan dan Sumatera juga menjadikan GEMS unggul secara logistik, baik untuk pemenuhan pasar domestik maupun ekspor. Diversifikasi ini memperkuat ketahanan rantai pasok dalam industri tambang batubara di Indonesia.

3 Tambang Aktif GEMS yang Menopang Produksi Strategis

Industri tambang batubara di Indonesia semakin dinamis dari masa ke masa. GEMS saat ini beroperasi melalui tiga anak perusahaannya, yaitu:

1. BIB (Borneo Indobara)

Berlokasi di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, BIB adalah tulang punggung produksi GEMS. Tambang terbuka batubara ini menghasilkan kalori sedang untuk PLTU dan pasar ekspor Asia.

Dengan teknologi tambang batubara berbasis digital monitoring dan integrasi hauling, efisiensi produksi menjadi keunggulan utama.

2. BSL (Barasentosa Lestari)

Tambang ini terletak di Musi Rawas, Sumatera Selatan, dan fokus pada produksi batubara kalori rendah-sedang. Sebagai pemain utama dalam penyaluran DMO ke PLN, BSL memperkuat ketahanan energi nasional melalui rantai pasok domestik. Praktik tambang berkelanjutan diterapkan dengan memperhatikan efisiensi dan distribusi regional.

3. KIM (Kuansing Inti Makmur) dan Anak Perusahaannya

Terletak di Kabupaten Bungo, Jambi, KIM dan anak perusahaannya menghadirkan pasokan kalori sedang yang sesuai untuk pasar domestik dan regional terbatas. Meski kontribusinya lebih kecil, KIM menjadi simpul penting dalam pertumbuhan ekonomi lokal serta ekspansi GEMS di wilayah Sumatera. Operasi tambang juga dilakukan dengan pendekatan adaptif dan mengedepankan efisiensi.

Simak juga: Pertambangan Batu Bara dan Penerapan Good Mining Practice di GEMS

Efisiensi dan Keberlanjutan: Bagian dari Sistem, Bukan Sekadar Slogan

GEMS menerapkan praktik tambang berkelanjutan melalui langkah konkret: reklamasi lahan pascatambang, pengolahan air limbah (water treatment), pemanfaatan solar panel, serta efisiensi bahan bakar minyak.

Bukan hanya respons sesaat terhadap tekanan global, pendekatan ini telah menjadi blue print sejak awal perusahaan beroperasi. Ini sekaligus menegaskan komitmen jangka panjang GEMS untuk menyeimbangkan produktivitas keberlanjutan.

Tambang batu bara di Indonesia

Tambang batu bara di Indonesia masih jadi pilar energi global sekaligus mesin devisa nasional dan penggerak industri nasional. Indonesia kini tercatat sebagai salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di dunia.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) telah hadir sejak 1997 dan mengelola konsesi luas di Sumatera dan kalimantan. Komitmen kami adalah menjaga kestabilan pasokan dan mendukung keberlanjutan.

Tren Produksi Tambang batu bara di Indonesia

Tambang batu bara di Indonesia menunjukkan tren produksi yang terus meningkat dalam lima tahun terakhir:

Tahun*

2020

2021

2022

2023

2024

Produksi Batu Bara (juta ton)

563,73

613,99

687,43

775,18

836,13

*sumber Laporan Kinerja Kementerian ESDM tahun 2024

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatatkan selama selama semester I tahun 2025 produksi batubara nasional mencapai 357,6 juta ton atau 48,34% dari target produksi tahun 2025 sebesar 739,67 juta ton.

Pasokan batubara nasional dialokasikan untuk ekspor sebesar 238 juta ton, memasok 45% kebutuhan Listrik dunia. Angka ini menjadi bukti bahwa Indonesia masih menjadi pemain besar dalam rantai energi dunia. Walaupun energi global terus mengalami transisi, tambang batu bara di Indonesia tetap berperan strategis dalam menjaga stabilitas pasokan dan mendukung ekonomi nasional.

Angka Produksi GEMS

GEMS mendukung produksi batu bara nasional, di mana GEMS memproduksi 50,7 juta ton pada tahun 2024 yang mengalami peningkatan produksi sebesar 10% dibandingkan pada tahun 2023 sebesar 46,1 juta ton.

Komitmen kami jelas: mendukung rantai pasok batu bara nasional tetap terjaga. Hal ini juga sejalan dengan tuntutan energi dan pembangunan yang terus bergerak maju.

Pasar Ekspor Utama

Sebagian besar hasil produksi kami mengalir ke pasar ekspor strategis seperti Tiongkok, India, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, Bangladesh, Vietnam, Kamboja dan Hongkong. Ekspor batu bara GEMS ini menopang berbagai industri, dari pembangkit listrik dan pabrik semen.

Simak juga: Kegunaan Batu Bara lebih dari Sekadar Sumber Energi

Bagaimana GEMS Mengatasi Tantangan di Masa Depan

Catatan gemilang data batu bara Indonesia tidak lepas dari tantangan, terutama terkait lingkungan dan transisi energi hingga dinamika sosial yang penguraiannya perlu pendekatan bijak.

Inisiatif GEMS Menghadapi Isu Lingkungan

Pasokan bukan satu-satunya tantangan tambang batu bara di Indonesia. Emisi, deforestasi, hingga limbah operasional menjadi dampak lain yang harus dikelola para pengusaha tambang.

GEMS merespons hal tersebut melalui berbagai inisiatif, seperti reklamasi tambang dan penanaman mangrove hingga pengolahan sumber air baku dari bekas tambang menjadi air layak minum.

Perusahaan juga menerapkan penggunaan truk listrik, dashboard pemantauan emisi real-time, hingga menjadikan limbah oli sebagai agen peledak ramah lingkungan.

Langkah-langkah tersebut menjadi aksi nyata penerapan teknologi rendah emisi, yang sejalan dengan kebijakan energi batu bara nasional dan target pengurangan  jejak karbon.

Melalui komitmen di atas, GEMS membuktikan bahwa keberlanjutan adalah strategi dalam menghadapi masa depan tambang batu bara di Indonesia.

Isu Sosial : Merajut Harmoni di Tengah Tantangan

Tantangan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari industri tambang. Konflik lahan, kebutuhan dasar masyarakat, hingga kerentanan ekonomi lokal menuntut pendekatan yang kolaboratif dan berkelanjutan. GEMS melalui PT Borneo Indobara (BIB) merespons isu-isu ini melalui program-program CSR yang menyasar kebutuhan nyata masyarakat di sekitar lingkar tambang.

  • Air Minum Andaru: Kolam bekas tambang diolah dengan teknologi modern menjadi air minum pH 8+ yang sehat, menyuplai 1.811 KK, menurunkan pengeluaran air rumah tangga hingga 93%
  • Beasiswa Pendidikan: Menyokong masa depan generasi muda melalui 95 beasiswa S1 bagi anak-anak di ring 1.
  • Program Stunting: Meningkatkan kesehatan ibu dan anak dengan intervensi gizi, edukasi, serta penguatan posyandu.
  • Ekonomi Riil: Mengembangkan pertanian, perikanan, peternakan, serta home industry sebagai strategi pengentasan kemiskinan.
  • Transformasi Lahan Tidur: Mengoptimalkan lahan di 22 desa ring 1 menjadi produktif, sebagai langkah menuju transisi ekonomi dari ketergantungan pada tambang ke sektor pertanian dan perkebunan.

Dengan penguatan kelembagaan melalui Bumdes, koperasi, dan Bumdesma, BIB menghadirkan ekosistem yang bukan hanya mengurangi kerentanan sosial, tetapi juga mendorong kemandirian desa secara berkelanjutan.

Strategi GEMS Meraih Peluang Potensial Masa Depan

Potensi Ekspor

Sebagai salah satu pemasok utama di Asia, GEMS terus menjaga kepercayaan klien lama sambil menjajaki pasar baru. Salah satu langkahnya adalah meningkatkan proses produksi secara berkelanjutan. Ini juga termasuk transformasi digital agar efisiensi meningkat dan keselamatan kerja lebih terpantau.

Inovasi Teknologi

Digitalisasi dan konsep Mining 4.0 turut mendorong efisiensi operasional dan keselamatan kerja yang terukur serta pengendalian emisi.

GEMS mengadopsi teknologi ini untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memangkas potensi dampak lingkungan, sehingga kegiatan  operasional lebih efisien, tingkat keselamatan kerja terukur, serta emisi terjaga.

Adaptasi dan Keberlanjutan

Era clean energy tak bisa ditunda lagi. Kami mendukung keberlanjutan tambang batu bara dengan terus menyesuaikan operasi sesuai kebijakan energi hijau pemerintah. Langkah ini membuka peluang tumbuh di pasar global, di mana permintaan energi tetap tinggi meski tekanan emisi semakin ketat.

Membuka Jalan Baru Bersama GEMS

Tambang batu bara di Indonesia masih punya potensi bertumbuh di tengah tantangan global yang dinamis dengan catatan, pengelolaannya dilakukan dengan visi adaptif. GEMS membuktikan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab bisa berjalan beriringan dengan target bisnis.

Bersama dengan pemerintah, GEMS turut mendukung masa depan hijau melalui penerapan green mining practices (operasional pertambangan yang berwawasan lingkungan) yang berbasis keberlanjutan untuk masa depan industri tambang batu bara di Indonesia.