Proyeksi Prospek Bisnis

Prospek Usaha

Memasuki tahun 2026, industri batu bara nasional diperkirakan menghadapi fase penyesuaian seiring dengan rencana pemerintah untuk mengendalikan tingkat produksi guna menjaga keseimbangan pasar dan stabilitas harga global. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara (Ditjen Minerba) menyampaikan bahwa target produksi batu bara nasional berpotensi ditetapkan di bawah 700 juta ton, lebih rendah dibandingkan capaian tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan ini diambil untuk merespons fluktuasi permintaan internasional serta menekan risiko kelebihan pasokan yang dapat berdampak pada penurunan harga batu bara di pasar global.

Dari sisi pasar, permintaan dari negara tujuan utama seperti Tiongkok dan India diperkirakan melambat, seiring dengan peningkatan produksi domestik dan kebijakan efisiensi energi di masing-masing negara. Namun demikian, pasar alternatif seperti Filipina diperkirakan tetap memberikan peluang penyerapan ekspor yang lebih stabil. Dalam kondisi tersebut, harga batu bara diproyeksikan bergerak relatif stabil mengikuti tren komoditas global, meskipun tetap dipengaruhi oleh dinamika permintaan internasional dan kebijakan energi. Dengan mempertimbangkan tantangan regulasi, termasuk proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dan target Penerimaan Negara Bukan Pajak sektor minerba, Perseroan memandang prospek usaha 2026 berada dalam kondisi menantang namun tetap dapat dikelola secara cermat.

Proyeksi 2026 Perseroan

Perseroan menargetkan volume produksi batu bara pada tahun 2026 berada pada kisaran 54-58 juta ton, dengan volume penjualan sebesar 54-58 juta ton. Dari sisi struktur permodalan, Perseroan menargetkan struktur modal yang tetap sehat dan optimal, dengan rasio permodalan yang terjaga sesuai dengan strategi pendanaan dan kebutuhan investasi Perseroan.