GEMS

Singapore, 5 November 2025 – PT Golden Energy Mines Tbk (“GEMS”) meraih penghargaan bergengsi Indonesia Sustainability Innovation of the Year – Metals & Mining dalam ajang Asian Innovation Excellence Awards 2025 yang diselenggarakan di Marina Bay Sands, Singapura. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan-perusahaan di Asia yang dinilai berhasil mengedepankan inovasi dan keberlanjutan dalam operasional bisnisnya.

Berdasarkan laporan keberlanjutan GEMS 2024, perusahaan mencatat total emisi karbon sebesar 717,5 ribu ton CO₂ ekuivalen dengan intensitas emisi 0,027 ton CO₂ ekuivalen per ton batubara yang diproduksi. Konsumsi energi mencapai 12.382.891 gigajoule, dengan 31.381 megawatt-jam di antaranya berasal dari pasokan energi bersih. Pada tahun yang sama, GEMS juga mencatat volume produksi batubara sebesar 50,69 juta ton dan volume penjualan sebesar 51,86 juta ton.

Penghargaan ini diterima oleh Ibu Mia Febrina, Head of Sustainability GEMS. Dalam sambutannya, Ibu Mia menyampaikan, “Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras seluruh insan GEMS dalam menerapkan prinsip keberlanjutan di seluruh lini operasional kami. Kami percaya bahwa inovasi dan tanggung jawab lingkungan adalah fondasi penting dalam membangun masa depan yang berkelanjutan. Kami berharap penghargaan ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri lainnya untuk bersama-sama mendorong transformasi menuju praktik bisnis yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutup Ibu Mia Febrina.

GEMS secara konsisten menerapkan praktik keberlanjutan melalui kebijakan efisiensi energi, pemantauan emisi, serta program rehabilitasi lahan pascatambang di area operasional. GEMS juga telah memperoleh sertifikasi ISO 14001:2015 untuk Sistem Manajemen Lingkungan dan ISO 45001:2018 untuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagai bukti keseriusannya dalam menjalankan operasi berstandar tinggi.

Selain aspek lingkungan, GEMS menjalankan berbagai program sosial di sekitar wilayah operasional, mencakup pelatihan keterampilan, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi keberlanjutan GEMS untuk menciptakan dampak positif bagi pemangku kepentingan dan komunitas lokal.

GEMS mendapatkan penghargaan ini berkat komitmennya dalam menjalankan praktik pertambangan yang berkelanjutan serta berorientasi pada efisiensi energi dan tanggung jawab lingkungan. Melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, GEMS terus berupaya mengurangi emisi karbon, meningkatkan efisiensi energi, serta menerapkan sistem manajemen lingkungan berstandar internasional.

Dengan diraihnya penghargaan ini, GEMS menegaskan posisinya sebagai salah satu perusahaan pertambangan terkemuka di Indonesia yang berkomitmen terhadap pertumbuhan berkelanjutan, efisiensi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi investor dan pemangku kepentingan.

Penerimaan Penghargaan Subroto

Jakarta, Oktober 2025, PT Borneo Indobara (BIB), anak perusahaan dari PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) berhasil meraih Penghargaan Subroto kategori PPM Terinovatif melalui Program Karin Feed Mill – Pabrik Pakan Karin yang diadakan di Jakarta tanggal   24 Oktober 2025 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia.

penghargaan subroto

Program Karin Feed Mill

Karin Feed Mill merupakan bagian dari inisiatif BIB dalam mengembangkan integrated farming system, yaitu sistem pertanian terpadu dan berkelanjutan yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah dalam satu ekosistem ekonomi yang saling mendukung.

Program ini memanfaatkan pangan lokal seperti jagung pakan, tepung ikan, serta bahan alami lainnya sebagai bahan baku utama untuk memproduksi pakan ternak berkualitas. Melalui pendekatan ini, masyarakat dapat mengolah hasil pertanian dan perikanan menjadi produk bernilai tambah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pakan impor atau dari luar daerah.

Selain itu, sistem ini juga mendorong ekonomi sirkular, di mana limbah ternak diolah kembali menjadi pupuk organik yang digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah pertanian. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam rantai produksi dan distribusi pakan lokal yang berkelanjutan.

Program Karin Feed Mill memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Dari sisi ekonomi, program ini membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengelolaan bahan baku lokal menjadi pakan ternak bernilai tinggi. Dari sisi sosial, masyarakat memperoleh peningkatan keterampilan melalui pelatihan produksi, manajemen usaha, dan teknik pertanian terpadu, sehingga mampu mengelola kegiatan secara mandiri. Sementara dari sisi lingkungan, program ini berhasil mengoptimalkan pemanfaatan bahan lokal dan limbah organik, menciptakan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Bapak  Riadi Simka Pinem, selaku Ketua Teknik Tambang BIB  menyampaikan “Kami bersyukur atas penghargaan ini dari Kementerian ESDM. Program Karin Feed Mill membuktikan bahwa potensi lokal bisa diolah menjadi kekuatan besar bagi masyarakat. Pendekatan integrated farming tidak hanya memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga membangun kemandirian dan keberlanjutan sosial-lingkungan. Kami akan terus memperluas dampak positif program ini di wilayah lain.”

Penghargaan Subroto kategori PPM Terinovatif menjadi bentuk pengakuan nasional atas komitmen BIB dalam membangun model pemberdayaan masyarakat yang inovatif, berbasis pangan lokal, dan berkelanjutan. Keberhasilan program ini menunjukkan sinergi nyata antara pemerintah, BIB, dan masyarakat dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pengentasan kemiskinan (SDG 1), ketahanan pangan (SDG 2), dan pertumbuhan ekonomi inklusif (SDG 8).

Penghargaan Ajang CSR

Jakarta,  September 2025, PT Borneo Indobara (BIB), anak perusahaan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), berhasil meraih 2 (dua) Gold Award dan 1 (satu) Silver Award untuk program serta 1 (satu) Excellence Award untuk perorangan  dalam ajang CSR & Pengembangan Desa Berkelanjutan (PDB) Awards 2025  yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 30 September 2025 oleh Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF) melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

Penilaian dalam ajang ini mencakup aspek inovasi, keberlanjutan, partisipasi masyarakat, dan dampak sosial terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.

penghargaan CSR

Penghargaan yang diraih oleh BIB adalah sebagai berikut:

  • Andaru Potable Water – Gold Award

Program Air Minum ini merupakan keberlanjutan dari program sebelumnya yaitu program air bersih. Dimana sumber baku air bersih dan air minum tersebut berasal dari  bekas kolam tambang. Untuk program air minum ini,  BIB mendampingi mulai dari proses pembangunan sarana prasarana hingga perijinan. Penerima manfaat atas program ini adalah 22 Desa di 5 Kecamatan. Program ini dikelola oleh Bumdesma dan juga Bumdes di 22 Desa, sehingga menjadi pendapatan tambahan bagi Desa.

  • Karin Feed Mill – Gold Award

Program pemberdayaan masyarakat dalam produksi pakan ternak berbasis bahan baku lokal, program ini mendorong kemandirian ekonomi desa, dan membuka lapangan kerja baru. Program ini juga mengintegrasi antara 22 Desa dalam mensupply bahan baku yang diperlukan oleh pabrik pakan (cluster desa pertanian dan perikanan air laut) dan hasil pakan tersebut kembali ke cluster desa peternakan dan perikanan, sehingga zero waste juga tercipta.

  • Masjid Apung Ziyadataul Abrar – Silver Award

BIB melalui pilar infrastruktur melakukan pembangunan masjid apung yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Tanah Bumbu yang menjadi pusat kegiatan ibadah, sosial, dan wisata religi masyarakat di sekitar wilayah operasional BIB. Selain itu dampak yang terasa adalah roda perekonomian di lingkungan terdampak meningkat secara signifikan, terutama bagi pelaku umkm sekitar.

  • Perorangan kategori management – Excellence Award

BIB juga mengajukan program perorangan kategori management, dimana kategori ini juga berhasil mendapatkan salah satu award sehubungan dengan  paper yang diajukan dengan tema : “Mengukir Dampak Nyata Bagi Desa Untuk Keberlanjutan Ekonomi dan Sosial”

Keterlibatan Masyarakat dan Penerima Manfaat

Dalam momen penghargaan ini, turut hadir perwakilan masyarakat yang menjadi penerima manfaat langsung dari program CSR BIB, seperti Bapak Yono selaku Kepala Desa Mekarjaya, Bapak Marzuki Ketua BUMDesMa Mekarsari Angsana yang terlibat dalam program Andaru Potable Water, serta Bapak Puana dari kelompok Karin Feed Mill.

Kehadiran mereka menegaskan bahwa setiap program CSR yang dijalankan oleh BIB dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif, di mana masyarakat terlibat aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan program. Dengan demikian, setiap inisiatif yang dihadirkan benar-benar menjawab kebutuhan lokal dan memberikan manfaat jangka panjang.

Ibu Silvyna Aditia selaku perwakilan manajemen BIB meyampaikan “Kami sangat bersyukur atas apresiasi yang diberikan melalui ajang CSR & PDB Awards 2025 ini. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan program PPM yang inklusif, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Kami percaya bahwa semangat untuk tumbuh bersama masyarakat adalah fondasi utama dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,”.

Pencapaian BIB menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi BIB dalam mendorong tercapainya kemandirian desa, pemberdayaan masyarakat, dan implementasi prinsip SDGs Desa di wilayah operasional BIB.

BIB memandang program Pengembangan & Pemberdayaan Masyarakat (PPM) sebagai bagian integral dari strategi bisnis yang berkelanjutan. Berbagai program yang dijalankan berfokus pada 8 pilar yang ada didalam Kepmen ESDM No. 1824/2018. BIB juga mengimplementasikan prinsip Creating Shared Value (CSV), yaitu menciptakan nilai bersama antara BIB dan masyarakat, sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan sosial serta pelestarian lingkungan.

Perusahaan Tambang Terbesar di Kalimantan

Perusahaan tambang di Kalimantan bukan sekadar bagian dari industri mereka adalah penggerak utama produksi batu bara Indonesia yang mencapai 836 juta ton pada 2024. Kalimantan menyimpan 62,1% dari total potensi cadangan dan sumber daya batubara terbesar di Indonesia, yaitu 88,31 miliar ton sumber daya dan cadangan 25,84 miliar ton.

Dari Kalimantan Selatan hingga Timur dan Tengah, daerah ini menjadi tumpuan utama ketahanan energi nasional dan rantai pasok energi global. Tak heran jika perusahaan tambang batu bara di Kalimantan memegang peran strategis dalam peta energi dunia.

GEMS: Pilar Utama Perusahaan Tambang Terbesar di Kalimantan

GEMS mengelola sejumlah anak perusahaan yang aktif di sektor pertambangan batu bara di dua wilayah strategis: Sumatera dan Kalimantan.

Di Kalimantan, GEMS beroperasi melalui melalui PT Borneo Indobara (BIB) dan PT Trisula Kencana Sakti (TKS). Di Sumatera, GEMS beroperasi melalui PT Kuansing Inti Makmur (KIM) dan anak perusahaannya,  PT Barasentosa Lestari (BSL), dan PT Era Mitra Selaras (EMS) melalui anak perusahaannya.

Dalam satu dekade, GEMS mencatat lonjakan produksi dari 8 juta ton menjadi lebih dari 50 juta ton pada 2024. Ini membuktikan perannya sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional.

Sebagai bagian dari Sinar Mas Group, GEMS menjalankan operasional berbasis kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku, tata kelola berkelanjutan serta penggunaan teknologi digital pada operasionalnya.

Transformasi digital, optimalisasi rantai suplai energi, dan sistem kerja berbasis keselamatan adalah wajah modern dari praktik pertambangan perusahaan.

Selaku perusahaan tambang terbesar dan terkemuka di Indonesia, GEMS memiliki visi menjadi perusahaan pertambangan terkemuka di Indonesia dengan menciptakan nilai tambah bagi para pelanggan dan pemangku kepentingan, dengan menerapkan Good Mining Practice.

Simak juga: Jenis Tambang Batubara: Metode dan Praktik di Golden Energy Mines

Menuju Tambang Cerdas dan Rendah Emisi

Transformasi menuju tambang cerdas (smart mining) saat ini diterapkan oleh  GEMS, melalui penerapan digital mining operation system dan real-time monitoring dashboard untuk semua aktivitas tambang di BIB.

Langkah ini diperkuat oleh:

  • Penggunaan truk listrik (EV Trucking)
  • Optimasi hauling road berbasis efisiensi energi
  • Eksplorasi berkelanjutan dan berbasis data geologi
  • Interactive ESG Dashboard untuk memonitor emisi dari proses pertambangan

Pendekatan ini menunjukkan bahwa produksi tinggi dan operasional yang berwawasan lingkungan diperlukan untuk menciptakan operasional yang efisien, efektif dan sustainable.

Komitmen terhadap Good Mining Practice dan Keselamatan

GEMS menjadikan Good Mining Practice dan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai nilai utama perusahaan.

Keberhasilan GEMS tidak hanya diukur dari volume produksi, namun juga dari nilai keberlanjutan dan kontribusi sosial yang nyata.

Di tengah tantangan transisi energi global, GEMS membuktikan bahwa perusahaan tambang di Kalimantan bisa menjadi pemain utama dalam ekonomi hijau Indonesia.

Tambang Berkelanjutan

Tambang berkelanjutan bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Sektor energi menyumbang 75% emisi gas rumah kaca global, dengan 90% emisi CO2 berasal dari bahan bakar fosil seperti batu bara. Dalam lanskap inilah, stigma negatif terhadap tambang konvensional kian tajam.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) melalui PT Borneo Indobara (BIB) menjadikan tambang berkelanjutan sebagai landasan operasional.

Paradigma Baru: Tambang Berkelanjutan dan SDGs

Mengubah Paradigma Industri Tambang

BIB yang menjadi bagian dari GEMS meyakini bahwa tanggung jawab sosial bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi jangka panjang untuk memastikan masyarakat sekitar tambang ikut tumbuh bersama. Karena itu, setiap inisiatif CSR BIB diselaraskan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) agar memberikan dampak nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Dengan memetakan program CSR ke dalam target-target SDGs, perusahaan memastikan bahwa setiap rupiah investasi sosial memiliki dampak nyata, baik secara lokal maupun global. Selain itu kontribusi CSR BIB terhadap SDGs bukan hanya pada pencapaian indikator global, tetapi juga pada perubahan struktural masyarakat lokal: dari ketergantungan pada industri tambang menuju kemandirian ekonomi berbasis sumber daya desa. Inilah wujud nyata bahwa CSR adalah katalis transisi sosial, sekaligus bagian dari strategi besar GEMS untuk meninggalkan warisan keberlanjutan yang lebih luas daripada sekadar eksploitasi sumber daya alam.

SDG 2030: Cetak Biru BIB Menuju Tambang Bernilai Lintas Generasi

BIB tak sekadar memenuhi regulasi. Anak perusahaan ini menjadikan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai fondasi operasional.

Dalam peta jalannya menuju 2027, BIB menargetkan SDG 7 (Energi Bersih), dan SDG 13 (Aksi Iklim) melalui efisiensi energi, transisi ke solar panel, hingga pengelolaan limbah tambang berkelanjutan.

Lebih dari sebatas wacana hijau, strategi ini dibuktikan melalui penurunan emisi intensitas produksi. BIB memahami bahwa masa depan industri bukan hanya merujuk  neraca laba, tapi juga generasi yang akan hidup dari bumi yang ditinggalkan.

 

Rekam Jejak dan Penghargaan

Sejak awal, GEMS meyakini bahwa keberhasilan sebuah program CSR tidak hanya diukur dari pelaksanaan, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Konsistensi ini membawa rekam jejak yang kuat, di mana setiap inisiatif CSR berbuah pada transformasi sosial sekaligus mendapat pengakuan luas dari berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Rekam jejak dan penghargaan yang diperoleh membuktikan bahwa komitmen perusahaan dalam CSR bukan sekadar retorika. Validasi dari lembaga nasional menjadi legitimasi eksternal atas kualitas implementasi CSR GEMS.

Simak juga: Menelusuri Salah Satu Perusahaan Tambang Terbesar di Kalimantan

Langkah Progresif Menuju Tambang Ramah Lingkungan

Global terus menggaungkan untuk menurunkan emisi. Namun, BIB justru melangkah lebih cepat dari tuntutan. Inisiatif penggunaan truk hauling bertenaga listrik menjadi actionable symbol akan komitmen dekarbonisasi operasional.

Tak berhenti di sana, digitalisasi rantai tambang—dari pengangkutan hingga pemantauan emisi—mengukuhkan efisiensi sekaligus meminimalkan jejak karbon. Langkah-langkah ini muncul bukan karena respons sesaat, melainkan bagian dari blue print jangka panjang menuju tambang ramah lingkungan.

GEMS dan BIB membuktikan bahwa transformasi hijau bisa berjalan berdampingan dengan produktivitas tinggi. Tak heran jika keduanya menjadi pionir dalam redefinisi industri ekstraktif yang bertanggung jawab.

Menuju Masa Depan Tambang yang Bertanggung Jawab

Transformasi yang dijalankan GEMS melalui BIB membuktikan bahwa keberlanjutan seharusnya bisa jadi akselerator produktivitas, bukan hambatan. Memiliki peta jalan yang jelas juga berarti bahwa prinsip tanggung jawab lingkungan dan efisiensi operasional menjadi satu kesatuan strategis.

Optimisme terhadap industri tambang Indonesia yang lebih hijau pun bukan utopia. Justru dari sini narasi baru terbentuk bahwa daya saing jangka panjang bertumpu pada visi tambang berkelanjutan.

Jenis Tambang Batubara

Tambang batubara menjadi tulang punggung industri energi Indonesia, yang pada 2024 mencatat produksi nasional mencapai 836 juta ton 117% dari target.

Di tengah permintaan energi global dan ekspor yang terus naik, metode tambang terbuka (open pit) mendominasi operasi di  PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Dengan lima area konsesi strategis, GEMS bukan sekadar produsen, tapi pemain utama dalam menjaga ketahanan energi.

Wilayah Tambang Strategis Milik GEMS

GEMS mengelola konsesi pertambangan batubara di Kalimantan dan Sumatera melalui entitas anak usaha pemegang izin pertambangan batubara yakni PT Borneo Indobara (BIB), PT Barasentosa Lestari (BSL), PT Kuansing Inti Makmur (KIM) beserta anak usahanya,  PT Trisula Kencana Sakti (TKS), serta PT Era Mitra Selaras (EMS) beserta anak usahanya.

Hingga akhir 2024, total area tambang yang dikelola mencapai sekitar 66.204 hektar, dengan cadangan batubara sebesar 900 juta ton.

Lokasi yang tersebar strategis di Kalimantan dan Sumatera juga menjadikan GEMS unggul secara logistik, baik untuk pemenuhan pasar domestik maupun ekspor. Diversifikasi ini memperkuat ketahanan rantai pasok dalam industri tambang batubara di Indonesia.

3 Tambang Aktif GEMS yang Menopang Produksi Strategis

Industri tambang batubara di Indonesia semakin dinamis dari masa ke masa. GEMS saat ini beroperasi melalui tiga anak perusahaannya, yaitu:

1. BIB (Borneo Indobara)

Berlokasi di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, BIB adalah tulang punggung produksi GEMS. Tambang terbuka batubara ini menghasilkan kalori sedang untuk PLTU dan pasar ekspor Asia.

Dengan teknologi tambang batubara berbasis digital monitoring dan integrasi hauling, efisiensi produksi menjadi keunggulan utama.

2. BSL (Barasentosa Lestari)

Tambang ini terletak di Musi Rawas, Sumatera Selatan, dan fokus pada produksi batubara kalori rendah-sedang. Sebagai pemain utama dalam penyaluran DMO ke PLN, BSL memperkuat ketahanan energi nasional melalui rantai pasok domestik. Praktik tambang berkelanjutan diterapkan dengan memperhatikan efisiensi dan distribusi regional.

3. KIM (Kuansing Inti Makmur) dan Anak Perusahaannya

Terletak di Kabupaten Bungo, Jambi, KIM dan anak perusahaannya menghadirkan pasokan kalori sedang yang sesuai untuk pasar domestik dan regional terbatas. Meski kontribusinya lebih kecil, KIM menjadi simpul penting dalam pertumbuhan ekonomi lokal serta ekspansi GEMS di wilayah Sumatera. Operasi tambang juga dilakukan dengan pendekatan adaptif dan mengedepankan efisiensi.

Simak juga: Pertambangan Batu Bara dan Penerapan Good Mining Practice di GEMS

Efisiensi dan Keberlanjutan: Bagian dari Sistem, Bukan Sekadar Slogan

GEMS menerapkan praktik tambang berkelanjutan melalui langkah konkret: reklamasi lahan pascatambang, pengolahan air limbah (water treatment), pemanfaatan solar panel, serta efisiensi bahan bakar minyak.

Bukan hanya respons sesaat terhadap tekanan global, pendekatan ini telah menjadi blue print sejak awal perusahaan beroperasi. Ini sekaligus menegaskan komitmen jangka panjang GEMS untuk menyeimbangkan produktivitas keberlanjutan.

Tambang batu bara di Indonesia

Tambang batu bara di Indonesia masih jadi pilar energi global sekaligus mesin devisa nasional dan penggerak industri nasional. Indonesia kini tercatat sebagai salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di dunia.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) telah hadir sejak 1997 dan mengelola konsesi luas di Sumatera dan kalimantan. Komitmen kami adalah menjaga kestabilan pasokan dan mendukung keberlanjutan.

Tren Produksi Tambang batu bara di Indonesia

Tambang batu bara di Indonesia menunjukkan tren produksi yang terus meningkat dalam lima tahun terakhir:

Tahun*

2020

2021

2022

2023

2024

Produksi Batu Bara (juta ton)

563,73

613,99

687,43

775,18

836,13

*sumber Laporan Kinerja Kementerian ESDM tahun 2024

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatatkan selama selama semester I tahun 2025 produksi batubara nasional mencapai 357,6 juta ton atau 48,34% dari target produksi tahun 2025 sebesar 739,67 juta ton.

Pasokan batubara nasional dialokasikan untuk ekspor sebesar 238 juta ton, memasok 45% kebutuhan Listrik dunia. Angka ini menjadi bukti bahwa Indonesia masih menjadi pemain besar dalam rantai energi dunia. Walaupun energi global terus mengalami transisi, tambang batu bara di Indonesia tetap berperan strategis dalam menjaga stabilitas pasokan dan mendukung ekonomi nasional.

Angka Produksi GEMS

GEMS mendukung produksi batu bara nasional, di mana GEMS memproduksi 50,7 juta ton pada tahun 2024 yang mengalami peningkatan produksi sebesar 10% dibandingkan pada tahun 2023 sebesar 46,1 juta ton.

Komitmen kami jelas: mendukung rantai pasok batu bara nasional tetap terjaga. Hal ini juga sejalan dengan tuntutan energi dan pembangunan yang terus bergerak maju.

Pasar Ekspor Utama

Sebagian besar hasil produksi kami mengalir ke pasar ekspor strategis seperti Tiongkok, India, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, Bangladesh, Vietnam, Kamboja dan Hongkong. Ekspor batu bara GEMS ini menopang berbagai industri, dari pembangkit listrik dan pabrik semen.

Simak juga: Kegunaan Batu Bara lebih dari Sekadar Sumber Energi

Bagaimana GEMS Mengatasi Tantangan di Masa Depan

Catatan gemilang data batu bara Indonesia tidak lepas dari tantangan, terutama terkait lingkungan dan transisi energi hingga dinamika sosial yang penguraiannya perlu pendekatan bijak.

Inisiatif GEMS Menghadapi Isu Lingkungan

Pasokan bukan satu-satunya tantangan tambang batu bara di Indonesia. Emisi, deforestasi, hingga limbah operasional menjadi dampak lain yang harus dikelola para pengusaha tambang.

GEMS merespons hal tersebut melalui berbagai inisiatif, seperti reklamasi tambang dan penanaman mangrove hingga pengolahan sumber air baku dari bekas tambang menjadi air layak minum.

Perusahaan juga menerapkan penggunaan truk listrik, dashboard pemantauan emisi real-time, hingga menjadikan limbah oli sebagai agen peledak ramah lingkungan.

Langkah-langkah tersebut menjadi aksi nyata penerapan teknologi rendah emisi, yang sejalan dengan kebijakan energi batu bara nasional dan target pengurangan  jejak karbon.

Melalui komitmen di atas, GEMS membuktikan bahwa keberlanjutan adalah strategi dalam menghadapi masa depan tambang batu bara di Indonesia.

Isu Sosial : Merajut Harmoni di Tengah Tantangan

Tantangan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari industri tambang. Konflik lahan, kebutuhan dasar masyarakat, hingga kerentanan ekonomi lokal menuntut pendekatan yang kolaboratif dan berkelanjutan. GEMS melalui PT Borneo Indobara (BIB) merespons isu-isu ini melalui program-program CSR yang menyasar kebutuhan nyata masyarakat di sekitar lingkar tambang.

  • Air Minum Andaru: Kolam bekas tambang diolah dengan teknologi modern menjadi air minum pH 8+ yang sehat, menyuplai 1.811 KK, menurunkan pengeluaran air rumah tangga hingga 93%
  • Beasiswa Pendidikan: Menyokong masa depan generasi muda melalui 95 beasiswa S1 bagi anak-anak di ring 1.
  • Program Stunting: Meningkatkan kesehatan ibu dan anak dengan intervensi gizi, edukasi, serta penguatan posyandu.
  • Ekonomi Riil: Mengembangkan pertanian, perikanan, peternakan, serta home industry sebagai strategi pengentasan kemiskinan.
  • Transformasi Lahan Tidur: Mengoptimalkan lahan di 22 desa ring 1 menjadi produktif, sebagai langkah menuju transisi ekonomi dari ketergantungan pada tambang ke sektor pertanian dan perkebunan.

Dengan penguatan kelembagaan melalui Bumdes, koperasi, dan Bumdesma, BIB menghadirkan ekosistem yang bukan hanya mengurangi kerentanan sosial, tetapi juga mendorong kemandirian desa secara berkelanjutan.

Strategi GEMS Meraih Peluang Potensial Masa Depan

Potensi Ekspor

Sebagai salah satu pemasok utama di Asia, GEMS terus menjaga kepercayaan klien lama sambil menjajaki pasar baru. Salah satu langkahnya adalah meningkatkan proses produksi secara berkelanjutan. Ini juga termasuk transformasi digital agar efisiensi meningkat dan keselamatan kerja lebih terpantau.

Inovasi Teknologi

Digitalisasi dan konsep Mining 4.0 turut mendorong efisiensi operasional dan keselamatan kerja yang terukur serta pengendalian emisi.

GEMS mengadopsi teknologi ini untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memangkas potensi dampak lingkungan, sehingga kegiatan  operasional lebih efisien, tingkat keselamatan kerja terukur, serta emisi terjaga.

Adaptasi dan Keberlanjutan

Era clean energy tak bisa ditunda lagi. Kami mendukung keberlanjutan tambang batu bara dengan terus menyesuaikan operasi sesuai kebijakan energi hijau pemerintah. Langkah ini membuka peluang tumbuh di pasar global, di mana permintaan energi tetap tinggi meski tekanan emisi semakin ketat.

Membuka Jalan Baru Bersama GEMS

Tambang batu bara di Indonesia masih punya potensi bertumbuh di tengah tantangan global yang dinamis dengan catatan, pengelolaannya dilakukan dengan visi adaptif. GEMS membuktikan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab bisa berjalan beriringan dengan target bisnis.

Bersama dengan pemerintah, GEMS turut mendukung masa depan hijau melalui penerapan green mining practices (operasional pertambangan yang berwawasan lingkungan) yang berbasis keberlanjutan untuk masa depan industri tambang batu bara di Indonesia.

Produksi Batu Bara Indonesia

Produksi batu bara Indonesia menembus rekor baru pada 2024, menjadikannya produsen nomor tiga terbesar di dunia setelah China dan India. Tren ini bukan sekadar angka di tengah gelombang elektrifikasi global dan lonjakan kebutuhan energi domestik. Ini adalah sinyal pergeseran strategi energi nasional.

Tren Produksi Batu Bara Secara Nasional

Tren produksi batu bara nasional menunjukkan lonjakan signifikan dalam lima tahun terakhir. Dari 563,73 juta ton pada 2020, angka produksi melonjak menjadi 836,13 juta ton pada 2024 yang melampaui target produksi batu bara nasional.

Kenaikan ini mengindikasikan kesiapan industri dalam menjaga pasokan energi nasional yang stabil di tengah lonjakan permintaan elektrifikasi. Capaian Pemenuhan kebutuhan batubara domestik tahun 2024 tercapai 128,33% dari target sebesar 181,28 juta ton merupakan sinyal bahwa Indonesia siap menjawab tantangan energi masa depan.

Data Produksi Batu Bara Indonesia tahun 2020-2024*

Tahun

2020

2021

2022

2023

2024

Produksi Batu Bara (juta ton)

563,73

613,99

687,43

775,18

836,13

*sumber Laporan Kinerja Kementerian ESDM tahun 2024

Ekspor Batu Bara dan Kontribusi Ekonomi Nasional

Tak hanya menopang listrik dalam negeri, ekspor batu bara juga menjadi sumber devisa yang signifikan bagi negara. Sepanjang 2024, Indonesia mencatat realisasi kontribusi mineral dan batu bara ke PNBP sebesar Rp 140,46 triliun yang melampaui target sebesar 123,71%.

Pada tahun 2024, pangsa pasar batu bara GEMS dan Entitas Anak mencakup pasar domestik serta berbagai negara di Asia, termasuk Tiongkok, India, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, Bangladesh, Vietnam, Kamboja, dan Hong Kong. Sebesar 63% dari total produksi GEMS dialokasikan untuk pasar ekspor.

Peran ini menjadikan sektor tambang salah satu penyokong APBN. GEMS  turut menjaga kelancaran rantai pasok ekspor sekaligus memenuhi kebutuhan domestik, yang pada akhirnya memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi global yang kian kompetitif.

Simak juga: Pertambangan Batu Bara dan Penerapan Good Mining Practice di GEMS

Peluang Investasi & Ketahanan Energi

Meski transisi ke energi baru terbarukan (EBT) terus digaungkan, PLTU dan industri baja serta semen masih bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama.

Ketergantungan ini justru membuka peluang investasi batu bara Indonesia, terutama untuk menjamin pasokan energi yang stabil di masa transisi. Dengan tata kelola yang adaptif dan berkelanjutan, batu bara tetap menjadi jembatan strategis menuju ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Green Mining: Teknologi Tambang Berkelanjutan

Guna mendukung dekarbonisasi, PT Borneo Indobara (BIB) di bawah naungan GEMS terus mendorong efisiensi tambang berbasis teknologi. Melalui sistem digitalisasi operasional, GEMS mengembangkan inovasi digital berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Ini mencakup seluruh proses siklus pertambangan, mulai dari proses produksi, proses inventory dalam Run of Mine (ROM) Stockpile, proses pengantaran batu bara (coal hauling) hingga proses pemuatan batu bara di area pelabuhan (barging, transshipment, dan sales). GEMS akan terus beradaptasi dengan teknologi pertambangan dengan tetap mendukung upaya dekarbonisasi.

Kegunaan Batu Bara lebih dari Sekadar Sumber Energi

Dalam bayang-bayang transisi energi, kegunaan batu bara justru semakin krusial sebagai salah satu penopang Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menjadi kontributor utama dalam bauran energi Indonesia. Tak hanya menjaga listrik tetap menyala, batu bara menggerakkan ekspor dan menopang industri hingga mendanai pembangunan.

Di tengah tekanan global menuju energi bersih, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) hadir dengan pendekatan berbeda, membuktikan bahwa tanggung jawab lingkungan dan produksi batu bara yang efisien dapat berjalan beriringan.

Beragam Kegunaan Batu Bara dalam Industri Strategis

Peran batu bara jauh lebih luas dari sekadar bahan bakar, saat ini ia menjadi komponen penting dalam berbagai industri utama. Dalam industri baja, misalnya, dibutuhkan sekitar 0,7 ton batu bara jenis metallurgical (coking coal) untuk memproduksi 1 ton baja kasar.

Sementara itu, di industri semen, batu bara digunakan untuk menghasilkan 1 ton klinker, dengan penggunaan sekitar 0,15 ton batu bara per ton semen, menghasilkan emisi karbon mendekati 1 ton per ton semen.

Sebagai bahan baku kimia, batu bara melalui proses gasifikasi menghasilkan syngas, yang kemudian dapat diolah menjadi metanol, fenol, dan bahan kimia penting lainnya untuk industri farmasi hingga plastik.

Proyeksi produksi batu bara GEMS pada tahun 2025 sebesar   50 juta ton, yang dapat mendukung rencana produksi batu bara nasional yang mencapai 735 juta ton, hal ini  memperkuat posisi GEMS sebagai mitra strategis dalam percepatan pembangunan industri dan energi nasional.

Multiplier Effect: Peran Sosial GEMS dalam Pemberdaan Masyarakat

Dari Tambang untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Industri batubara kerap dipandang hanya dari sisi kontribusi makro—PDB, devisa ekspor, atau penyerapan tenaga kerja. Namun bagi GEMS, keberadaan tambang harus lebih dari itu: memberikan nilai tambah sosial yang nyata dan menciptakan dampak berantai (multiplier effect) bagi komunitas lokal. Prinsip ini diwujudkan lewat serangkaian program CSR strategis yang tidak hanya menjawab kebutuhan dasar, tetapi juga merangsang pertumbuhan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan.

Multiplier Effect yang Nyata

Program CSR GEMS melalui unit operasionalnya, PT Borneo Indobara (BIB), dirancang bukan sebagai aktivitas filantropi semata, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem produktif. Beberapa pencapaian yang mencerminkan multiplier effect tersebut antara lain:

  1. Program Kelompok Nelayan Berjaya

Mengolah sekitar 6.246 buah ban bekas menjadi 694 rumpon (fish aggregating devices).

Dampak: hasil tangkapan ikan meningkat hingga 10 kali lipat, mengurangi pengeluaran bagi para nelayan, sekaligus memulihkan ekosistem laut.

Multiplier Effect: meningkatkan pendapatan nelayan, mengurangi limbah tambang, sekaligus memperkuat ketahanan pangan laut. Selain itu timbul kelompok baru untuk hilirisasi komoditas produk hasil laut.

  1. Andaru Mamulih Angsana – Air Minum dari Kolam Bekas Tambang

Pemanfaatan kolam bekas tambang seluas 32 hektar dengan kapasitas 8 juta m³ sebagai sumber air baku.

Dampak: Teknologi pengolahan menghasilkan air minum pH 8+ dengan kapasitas 3.600 liter/jam, menyuplai kebutuhan di 8 desa baik untuk air bersih dan air minum

Multiplier Effect: pengeluaran air masyarakat turun 93%, timbulkan usaha-usaha baru di Masyarakat dengan adanya air bersih dan air minum, serta menghadirkan contoh nyata circular economy dari tambang untuk masyarakat.

  1. Integrated Farming System (IFS)

Pemanfaatan 97,16 hektar lahan tidur di 22 desa ring 1 untuk pertanian, perikanan, dan peternakan. Dan akan terus dikembangkan Kembali.

Dampak: mengentaskan hingga 93% keluarga miskin, memperkuat ketahanan pangan, serta menciptakan rantai nilai ekonomi baru.

Multiplier Effect: lahan yang tadinya tidak produktif kini menjadi sumber penghidupan lintas generasi, mengurangi ketergantungan pada industri tambang.

  1. Produk Briket Batubara – Pemanfaatan Limbah Batubara

Dampak: Limbah batubara dimanfaatkan menjadi briket berkualitas sebagai energi alternatif rumah tangga dan UMKM.

Multiplier Effect: mengurangi ketergantungan pada LPG, mendukung energi ramah lingkungan, sekaligus menciptakan peluang usaha lokal baru.

  1. Pemberdayaan Home Industry & UMKM

Dampak: Dukungan bagi usaha kecil seperti pengolahan pangan lokal, kerajinan, hingga jasa konveksi (seragam tambang).

Multiplier Effect: diversifikasi ekonomi desa, penciptaan lapangan kerja perempuan, serta penguatan kemandirian keluarga.

 

Dampak berantai dari CSR GEMS tidak berhenti pada satu sektor. Air minum meningkatkan kesehatan sekaligus menghemat biaya rumah tangga. Pertanian, perikanan, peternakan  menghidupkan kembali lahan tidur sekaligus mengurangi kemiskinan. Nelayan berdaya, UMKM tumbuh, pendidikan terbuka, kesehatan membaik, kelembagaan desa menguat. Semua bergerak dalam satu ekosistem sosial yang produktif.

Inilah esensi multiplier effect GEMS: mengubah kontribusi industri batu bara dari sekadar angka di neraca negara, menjadi kekuatan yang menumbuhkan kehidupan di tingkat paling mikro—desa, keluarga, dan individu.

Simak juga: Pertambangan Batu Bara dan Penerapan Good Mining Practice di GEMS

Komitmen GEMS untuk Masa Depan

GEMS bukan sekadar mengejar target produksi, melainkan merancang masa depan yang inklusif—untuk masyarakat dan lingkungan serta ekonomi nasional.

Dengan komitmen jangka panjang dan tanggung jawab lintas sektor, GEMS membuktikan bahwa kegunaan batu bara akan terus relevan jika dikelola secara berkelanjutan.

Pertambangan-Batu-Bara

Pertambangan batu bara menopang 66% produksi listrik Indonesia. Namun, saat target bauran energi terbarukan 2050 ditetapkan sebesar 31%, posisi batu bara kian dipertanyakan.

Berada di tengah tekanan transisi energi, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) justru konsisten meningkatkan produksi batu baranya dari tahun ke tahun.

Data dan Tren Produksi Batu Bara Indonesia

Selama lima tahun terakhir, industri tambang batubara Indonesia terus mencatat lonjakan produksi. Mulai dari 563,73 juta ton pada 2020 hingga mencapai 836,13 juta ton di 2024.

Tahun*

Produksi Nasional

Domestik (juta ton)

2020

563,73

131,89

2021

613,99

133,04

2022

687,43

215,81

2023

775,18

212,87

2024

836,13

232,64

*sumber Laporan Kinerja Kementerian ESDM tahun 2024

Tren peningkatan produksi ini menuntut komitmen yang lebih kuat terhadap praktik pertambangan yang berkelanjutan dan akuntabel.

Penerapan Good Mining Practice bukan lagi sekadar opsi, melainkan keharusan untuk menjaga keseimbangan antara performa produksi serta kebutuhan dalam negeri dan dampak lingkungan yang muncul.

Operasional Pertambangan Batu Bara di PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)

Dalam lanskap pertambangan batu bara Indonesia, geologi bukan sekadar peta tanah. Keberadaannya menentukan jenis batubara dan metode ekstraksi hingga potensi sumber daya batu bara.

Melalui skema PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara), GEMS mengelola area konsesi di Kalimantan Selatan yang kaya akan sub-bituminous melalui anak perusahannya, yakni PT Borneo Indobara (BIB). Ini adalah jenis batubara yang kandungan kalorinya menengah dan menjadi incaran pasar Asia untuk pembangkit listrik.

Simak Juga: Kegunaan Batu Bara lebih dari Sekadar Sumber Energi

Proses Penambangan GEMS: Efisien, Terukur, Taat Regulasi

pertambangan batubara

Photo by  Annual Report 2024

Operasi tambang GEMS dimulai dari land clearing dan pemindahan top soil secara hati-hati ke lokasi penyimpanan top soil yang telah ditentukan untuk mendukung proses reklamasi pascatambang.

Selanjutnya, dilakukan pengupasan overburden, diikuti dengan kegiatan penambangan yang sistematis, dan terintegrasi dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja serta kelestarian lingkungan.

Batu bara yang telah ditambang diangkut ke stockpile, dihancurkan, kemudian dimuat ke kapal tongkang (barge loading) untuk distribusi ke pasar domestik maupun ekspor. Proses ditutup dengan penyebaran kembali top soil, revegetasi, dan pemantauan reklamasi. Dengan pendekatan ini, area bekas tambang tidak hanya pulih, tapi juga dapat produktif kembali.

Metode Open Pit

Seluruh area tambang GEMS menggunakan metode open pit atau tambang terbuka. Metode ini adalah yang paling optimal untuk karakteristik batubara Kalimantan yang dekat dengan permukaan.

Bukan hanya efisiensi produk, keunggulan metode ini juga terletak pada risiko geoteknik yang minimal. Selain itu, penerapan sistem keselamatan kerja lebih mudah dan mitigasi dampak lingkungan tambang batu bara juga relatif efisien.

Dengan begitu, produktivitas tinggi, risiko teknis rendah, dan kepatuhan lingkungan hidup selalu terjaga.

Komitmen GEMS terhadap Good Mining Practice dan Keberlanjutan

GEMS memegang teguh prinsip Good Mining Practice dan kepatuhan terhadap regulasi terkait serta reklamasi sebagai bagian dari tanggung jawab jangka panjang. Bagi kami, pertambangan berkelanjutan menjadi komitmen dalam menjalankan kegiatan operasional di masa mendatang.

Melalui pendekatan yang konsisten, transparan, dan bertanggung jawab, GEMS membuktikan bahwa pertambangan batu bara dapat berjalan dengan berkelanjutan tanpa mengesampingkan etika dan nilai-nilai keberlanjutan.