GEMS

Singapore, 5 November 2025 – PT Golden Energy Mines Tbk (“GEMS”) meraih penghargaan bergengsi Indonesia Sustainability Innovation of the Year – Metals & Mining dalam ajang Asian Innovation Excellence Awards 2025 yang diselenggarakan di Marina Bay Sands, Singapura. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan-perusahaan di Asia yang dinilai berhasil mengedepankan inovasi dan keberlanjutan dalam operasional bisnisnya.

Berdasarkan laporan keberlanjutan GEMS 2024, perusahaan mencatat total emisi karbon sebesar 717,5 ribu ton CO₂ ekuivalen dengan intensitas emisi 0,027 ton CO₂ ekuivalen per ton batubara yang diproduksi. Konsumsi energi mencapai 12.382.891 gigajoule, dengan 31.381 megawatt-jam di antaranya berasal dari pasokan energi bersih. Pada tahun yang sama, GEMS juga mencatat volume produksi batubara sebesar 50,69 juta ton dan volume penjualan sebesar 51,86 juta ton.

Penghargaan ini diterima oleh Ibu Mia Febrina, Head of Sustainability GEMS. Dalam sambutannya, Ibu Mia menyampaikan, “Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras seluruh insan GEMS dalam menerapkan prinsip keberlanjutan di seluruh lini operasional kami. Kami percaya bahwa inovasi dan tanggung jawab lingkungan adalah fondasi penting dalam membangun masa depan yang berkelanjutan. Kami berharap penghargaan ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri lainnya untuk bersama-sama mendorong transformasi menuju praktik bisnis yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutup Ibu Mia Febrina.

GEMS secara konsisten menerapkan praktik keberlanjutan melalui kebijakan efisiensi energi, pemantauan emisi, serta program rehabilitasi lahan pascatambang di area operasional. GEMS juga telah memperoleh sertifikasi ISO 14001:2015 untuk Sistem Manajemen Lingkungan dan ISO 45001:2018 untuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagai bukti keseriusannya dalam menjalankan operasi berstandar tinggi.

Selain aspek lingkungan, GEMS menjalankan berbagai program sosial di sekitar wilayah operasional, mencakup pelatihan keterampilan, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi keberlanjutan GEMS untuk menciptakan dampak positif bagi pemangku kepentingan dan komunitas lokal.

GEMS mendapatkan penghargaan ini berkat komitmennya dalam menjalankan praktik pertambangan yang berkelanjutan serta berorientasi pada efisiensi energi dan tanggung jawab lingkungan. Melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, GEMS terus berupaya mengurangi emisi karbon, meningkatkan efisiensi energi, serta menerapkan sistem manajemen lingkungan berstandar internasional.

Dengan diraihnya penghargaan ini, GEMS menegaskan posisinya sebagai salah satu perusahaan pertambangan terkemuka di Indonesia yang berkomitmen terhadap pertumbuhan berkelanjutan, efisiensi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi investor dan pemangku kepentingan.

Penerimaan Penghargaan Subroto

Jakarta, Oktober 2025, PT Borneo Indobara (BIB), anak perusahaan dari PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) berhasil meraih Penghargaan Subroto kategori PPM Terinovatif melalui Program Karin Feed Mill – Pabrik Pakan Karin yang diadakan di Jakarta tanggal   24 Oktober 2025 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia.

penghargaan subroto

Program Karin Feed Mill

Karin Feed Mill merupakan bagian dari inisiatif BIB dalam mengembangkan integrated farming system, yaitu sistem pertanian terpadu dan berkelanjutan yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah dalam satu ekosistem ekonomi yang saling mendukung.

Program ini memanfaatkan pangan lokal seperti jagung pakan, tepung ikan, serta bahan alami lainnya sebagai bahan baku utama untuk memproduksi pakan ternak berkualitas. Melalui pendekatan ini, masyarakat dapat mengolah hasil pertanian dan perikanan menjadi produk bernilai tambah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pakan impor atau dari luar daerah.

Selain itu, sistem ini juga mendorong ekonomi sirkular, di mana limbah ternak diolah kembali menjadi pupuk organik yang digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah pertanian. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam rantai produksi dan distribusi pakan lokal yang berkelanjutan.

Program Karin Feed Mill memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Dari sisi ekonomi, program ini membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengelolaan bahan baku lokal menjadi pakan ternak bernilai tinggi. Dari sisi sosial, masyarakat memperoleh peningkatan keterampilan melalui pelatihan produksi, manajemen usaha, dan teknik pertanian terpadu, sehingga mampu mengelola kegiatan secara mandiri. Sementara dari sisi lingkungan, program ini berhasil mengoptimalkan pemanfaatan bahan lokal dan limbah organik, menciptakan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Bapak  Riadi Simka Pinem, selaku Ketua Teknik Tambang BIB  menyampaikan “Kami bersyukur atas penghargaan ini dari Kementerian ESDM. Program Karin Feed Mill membuktikan bahwa potensi lokal bisa diolah menjadi kekuatan besar bagi masyarakat. Pendekatan integrated farming tidak hanya memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga membangun kemandirian dan keberlanjutan sosial-lingkungan. Kami akan terus memperluas dampak positif program ini di wilayah lain.”

Penghargaan Subroto kategori PPM Terinovatif menjadi bentuk pengakuan nasional atas komitmen BIB dalam membangun model pemberdayaan masyarakat yang inovatif, berbasis pangan lokal, dan berkelanjutan. Keberhasilan program ini menunjukkan sinergi nyata antara pemerintah, BIB, dan masyarakat dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pengentasan kemiskinan (SDG 1), ketahanan pangan (SDG 2), dan pertumbuhan ekonomi inklusif (SDG 8).

Perusahaan Tambang Terbesar di Kalimantan

Perusahaan tambang di Kalimantan bukan sekadar bagian dari industri mereka adalah penggerak utama produksi batu bara Indonesia yang mencapai 836 juta ton pada 2024. Kalimantan menyimpan 62,1% dari total potensi cadangan dan sumber daya batubara terbesar di Indonesia, yaitu 88,31 miliar ton sumber daya dan cadangan 25,84 miliar ton.

Dari Kalimantan Selatan hingga Timur dan Tengah, daerah ini menjadi tumpuan utama ketahanan energi nasional dan rantai pasok energi global. Tak heran jika perusahaan tambang batu bara di Kalimantan memegang peran strategis dalam peta energi dunia.

GEMS: Pilar Utama Perusahaan Tambang Terbesar di Kalimantan

GEMS mengelola sejumlah anak perusahaan yang aktif di sektor pertambangan batu bara di dua wilayah strategis: Sumatera dan Kalimantan.

Di Kalimantan, GEMS beroperasi melalui melalui PT Borneo Indobara (BIB) dan PT Trisula Kencana Sakti (TKS). Di Sumatera, GEMS beroperasi melalui PT Kuansing Inti Makmur (KIM) dan anak perusahaannya,  PT Barasentosa Lestari (BSL), dan PT Era Mitra Selaras (EMS) melalui anak perusahaannya.

Dalam satu dekade, GEMS mencatat lonjakan produksi dari 8 juta ton menjadi lebih dari 50 juta ton pada 2024. Ini membuktikan perannya sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional.

Sebagai bagian dari Sinar Mas Group, GEMS menjalankan operasional berbasis kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku, tata kelola berkelanjutan serta penggunaan teknologi digital pada operasionalnya.

Transformasi digital, optimalisasi rantai suplai energi, dan sistem kerja berbasis keselamatan adalah wajah modern dari praktik pertambangan perusahaan.

Selaku perusahaan tambang terbesar dan terkemuka di Indonesia, GEMS memiliki visi menjadi perusahaan pertambangan terkemuka di Indonesia dengan menciptakan nilai tambah bagi para pelanggan dan pemangku kepentingan, dengan menerapkan Good Mining Practice.

Simak juga: Jenis Tambang Batubara: Metode dan Praktik di Golden Energy Mines

Menuju Tambang Cerdas dan Rendah Emisi

Transformasi menuju tambang cerdas (smart mining) saat ini diterapkan oleh  GEMS, melalui penerapan digital mining operation system dan real-time monitoring dashboard untuk semua aktivitas tambang di BIB.

Langkah ini diperkuat oleh:

  • Penggunaan truk listrik (EV Trucking)
  • Optimasi hauling road berbasis efisiensi energi
  • Eksplorasi berkelanjutan dan berbasis data geologi
  • Interactive ESG Dashboard untuk memonitor emisi dari proses pertambangan

Pendekatan ini menunjukkan bahwa produksi tinggi dan operasional yang berwawasan lingkungan diperlukan untuk menciptakan operasional yang efisien, efektif dan sustainable.

Komitmen terhadap Good Mining Practice dan Keselamatan

GEMS menjadikan Good Mining Practice dan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai nilai utama perusahaan.

Keberhasilan GEMS tidak hanya diukur dari volume produksi, namun juga dari nilai keberlanjutan dan kontribusi sosial yang nyata.

Di tengah tantangan transisi energi global, GEMS membuktikan bahwa perusahaan tambang di Kalimantan bisa menjadi pemain utama dalam ekonomi hijau Indonesia.

Tambang Berkelanjutan

Tambang berkelanjutan bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Sektor energi menyumbang 75% emisi gas rumah kaca global, dengan 90% emisi CO2 berasal dari bahan bakar fosil seperti batu bara. Dalam lanskap inilah, stigma negatif terhadap tambang konvensional kian tajam.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) melalui PT Borneo Indobara (BIB) menjadikan tambang berkelanjutan sebagai landasan operasional.

Paradigma Baru: Tambang Berkelanjutan dan SDGs

Mengubah Paradigma Industri Tambang

BIB yang menjadi bagian dari GEMS meyakini bahwa tanggung jawab sosial bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi jangka panjang untuk memastikan masyarakat sekitar tambang ikut tumbuh bersama. Karena itu, setiap inisiatif CSR BIB diselaraskan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) agar memberikan dampak nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Dengan memetakan program CSR ke dalam target-target SDGs, perusahaan memastikan bahwa setiap rupiah investasi sosial memiliki dampak nyata, baik secara lokal maupun global. Selain itu kontribusi CSR BIB terhadap SDGs bukan hanya pada pencapaian indikator global, tetapi juga pada perubahan struktural masyarakat lokal: dari ketergantungan pada industri tambang menuju kemandirian ekonomi berbasis sumber daya desa. Inilah wujud nyata bahwa CSR adalah katalis transisi sosial, sekaligus bagian dari strategi besar GEMS untuk meninggalkan warisan keberlanjutan yang lebih luas daripada sekadar eksploitasi sumber daya alam.

SDG 2030: Cetak Biru BIB Menuju Tambang Bernilai Lintas Generasi

BIB tak sekadar memenuhi regulasi. Anak perusahaan ini menjadikan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai fondasi operasional.

Dalam peta jalannya menuju 2027, BIB menargetkan SDG 7 (Energi Bersih), dan SDG 13 (Aksi Iklim) melalui efisiensi energi, transisi ke solar panel, hingga pengelolaan limbah tambang berkelanjutan.

Lebih dari sebatas wacana hijau, strategi ini dibuktikan melalui penurunan emisi intensitas produksi. BIB memahami bahwa masa depan industri bukan hanya merujuk  neraca laba, tapi juga generasi yang akan hidup dari bumi yang ditinggalkan.

 

Rekam Jejak dan Penghargaan

Sejak awal, GEMS meyakini bahwa keberhasilan sebuah program CSR tidak hanya diukur dari pelaksanaan, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Konsistensi ini membawa rekam jejak yang kuat, di mana setiap inisiatif CSR berbuah pada transformasi sosial sekaligus mendapat pengakuan luas dari berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Rekam jejak dan penghargaan yang diperoleh membuktikan bahwa komitmen perusahaan dalam CSR bukan sekadar retorika. Validasi dari lembaga nasional menjadi legitimasi eksternal atas kualitas implementasi CSR GEMS.

Simak juga: Menelusuri Salah Satu Perusahaan Tambang Terbesar di Kalimantan

Langkah Progresif Menuju Tambang Ramah Lingkungan

Global terus menggaungkan untuk menurunkan emisi. Namun, BIB justru melangkah lebih cepat dari tuntutan. Inisiatif penggunaan truk hauling bertenaga listrik menjadi actionable symbol akan komitmen dekarbonisasi operasional.

Tak berhenti di sana, digitalisasi rantai tambang—dari pengangkutan hingga pemantauan emisi—mengukuhkan efisiensi sekaligus meminimalkan jejak karbon. Langkah-langkah ini muncul bukan karena respons sesaat, melainkan bagian dari blue print jangka panjang menuju tambang ramah lingkungan.

GEMS dan BIB membuktikan bahwa transformasi hijau bisa berjalan berdampingan dengan produktivitas tinggi. Tak heran jika keduanya menjadi pionir dalam redefinisi industri ekstraktif yang bertanggung jawab.

Menuju Masa Depan Tambang yang Bertanggung Jawab

Transformasi yang dijalankan GEMS melalui BIB membuktikan bahwa keberlanjutan seharusnya bisa jadi akselerator produktivitas, bukan hambatan. Memiliki peta jalan yang jelas juga berarti bahwa prinsip tanggung jawab lingkungan dan efisiensi operasional menjadi satu kesatuan strategis.

Optimisme terhadap industri tambang Indonesia yang lebih hijau pun bukan utopia. Justru dari sini narasi baru terbentuk bahwa daya saing jangka panjang bertumpu pada visi tambang berkelanjutan.

Jenis Tambang Batubara

Tambang batubara menjadi tulang punggung industri energi Indonesia, yang pada 2024 mencatat produksi nasional mencapai 836 juta ton 117% dari target.

Di tengah permintaan energi global dan ekspor yang terus naik, metode tambang terbuka (open pit) mendominasi operasi di  PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Dengan lima area konsesi strategis, GEMS bukan sekadar produsen, tapi pemain utama dalam menjaga ketahanan energi.

Wilayah Tambang Strategis Milik GEMS

GEMS mengelola konsesi pertambangan batubara di Kalimantan dan Sumatera melalui entitas anak usaha pemegang izin pertambangan batubara yakni PT Borneo Indobara (BIB), PT Barasentosa Lestari (BSL), PT Kuansing Inti Makmur (KIM) beserta anak usahanya,  PT Trisula Kencana Sakti (TKS), serta PT Era Mitra Selaras (EMS) beserta anak usahanya.

Hingga akhir 2024, total area tambang yang dikelola mencapai sekitar 66.204 hektar, dengan cadangan batubara sebesar 900 juta ton.

Lokasi yang tersebar strategis di Kalimantan dan Sumatera juga menjadikan GEMS unggul secara logistik, baik untuk pemenuhan pasar domestik maupun ekspor. Diversifikasi ini memperkuat ketahanan rantai pasok dalam industri tambang batubara di Indonesia.

3 Tambang Aktif GEMS yang Menopang Produksi Strategis

Industri tambang batubara di Indonesia semakin dinamis dari masa ke masa. GEMS saat ini beroperasi melalui tiga anak perusahaannya, yaitu:

1. BIB (Borneo Indobara)

Berlokasi di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, BIB adalah tulang punggung produksi GEMS. Tambang terbuka batubara ini menghasilkan kalori sedang untuk PLTU dan pasar ekspor Asia.

Dengan teknologi tambang batubara berbasis digital monitoring dan integrasi hauling, efisiensi produksi menjadi keunggulan utama.

2. BSL (Barasentosa Lestari)

Tambang ini terletak di Musi Rawas, Sumatera Selatan, dan fokus pada produksi batubara kalori rendah-sedang. Sebagai pemain utama dalam penyaluran DMO ke PLN, BSL memperkuat ketahanan energi nasional melalui rantai pasok domestik. Praktik tambang berkelanjutan diterapkan dengan memperhatikan efisiensi dan distribusi regional.

3. KIM (Kuansing Inti Makmur) dan Anak Perusahaannya

Terletak di Kabupaten Bungo, Jambi, KIM dan anak perusahaannya menghadirkan pasokan kalori sedang yang sesuai untuk pasar domestik dan regional terbatas. Meski kontribusinya lebih kecil, KIM menjadi simpul penting dalam pertumbuhan ekonomi lokal serta ekspansi GEMS di wilayah Sumatera. Operasi tambang juga dilakukan dengan pendekatan adaptif dan mengedepankan efisiensi.

Simak juga: Pertambangan Batu Bara dan Penerapan Good Mining Practice di GEMS

Efisiensi dan Keberlanjutan: Bagian dari Sistem, Bukan Sekadar Slogan

GEMS menerapkan praktik tambang berkelanjutan melalui langkah konkret: reklamasi lahan pascatambang, pengolahan air limbah (water treatment), pemanfaatan solar panel, serta efisiensi bahan bakar minyak.

Bukan hanya respons sesaat terhadap tekanan global, pendekatan ini telah menjadi blue print sejak awal perusahaan beroperasi. Ini sekaligus menegaskan komitmen jangka panjang GEMS untuk menyeimbangkan produktivitas keberlanjutan.